<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-263363959170927395</id><updated>2011-04-21T14:38:00.939-07:00</updated><category term='Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandu Indramayu'/><title type='text'>Anthrophology</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://koleksibacaananthrophology.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/263363959170927395/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://koleksibacaananthrophology.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>My Collection</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15363266516985222234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>1</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-263363959170927395.post-1838438312852168472</id><published>2008-04-13T06:14:00.000-07:00</published><updated>2008-04-13T06:15:23.679-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandu Indramayu'/><title type='text'>Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandu Indramayu:  Suatu Komunitas Keagamaan</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;(Tinjauan Antropologis)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah komunitas dalam literatur Antropologi berarti kesatuan sosial yang terbentuk karena adanya kesatuan tempat tinggal. Walaupun anggota komunitas pada kenyataannya ada yang bertempat tinggal menyebar, tetapi pada waktu-waktu tertentu mereka akan berkumpul di suatu tempat tertentu, misalnya pada waktu mengadakan upacara ritual. Karakteristik yang menonjol dari komunitas adalah adanya unsur-unsur sentimen komunitas (community sentiment) yang dimiliki anggota-anggotanya, yaitu perasaan sepenanggungan dan saling membutuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan konsepsi di atas, maka Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandu Indramayu dapat kita kategorikan sebagai komunitas, mengingat walaupun tempat tinggal anggotanya menyebar di berbagai wilayah namun pada waktu-waktu tertentu (umumnya pada hari jumat) mereka berkumpul di suatu lokasi yang terletak di Kecamatan Losarang untuk melakukan upacara ritual. Adapun istilah suku tidak dimaknai oleh mereka sebagai etnik atau suku bangsa, melainkan suatu istilah semantik yang berarti kaki (alat penyangga). Sedangkan istilah Dayak berasal dari kata Ngayak yang berarti menyaring (antara yang benar dan yang salah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik untuk dikaji dari keberadaan komunitas ini adalah aktivitas kehidupan mereka yang terfokus pada hal-hal yang bernuansa "religi", sebagaimana yang tampak dari atribut keseharian (kalung, gelang, maupun pakaian) yang mereka gunakan, berbagai upacara ritual, dan sejumlah aktivitas lain yang mengekspresikan jiwa keagamaan. kesatuan masyarakat yang mengkonsepsikan dan mengaktivkan "suatu religi" beserta sistem upacara demikian, oleh Koentjaraningrat (1985) disebut sebagai komunitas keagamaan (religious community). Orientasi keyakinan mereka yang eksklusif diwujudkan dengan memelihara tapal batas (boundary maintenance) seperti membuat batas areal lokasi peribadatan yang terpisah dari hunian komunitas lain, penggunaan atribut-atribut pembeda (pakaian dan ornamen-ornamen yang digunakan oleh anggota komunitas), sarana maupun prasarana yang diperuntukkan bagi kalangan sendiri dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hindu Budha Bumi Segandu, demikian nama sistem kepercayaan (religi) yang mereka anut. Dalam hal ini kita gunakan istilah "religi" untuk menghindari bias interpretasi karena istilah agama dalam masyarakat kita memiliki konotasi bentuk kepercayaan yang secara yuridis diakui oleh negara. Hindu Budha Bumi Segandu apabila kita maknai secara sepintas menunjukkan adanya sinkretisis (sintesa) antara agama Hindu, Budha, dan kepercayaan terhadap alam (Bumi Segandu = seluruh alam). Namun berdasarkan penuturan mereka, Hindu Budha (masih dalam konteks semantik) diartikan sebagai manusia dalam keadaan telanjang sewaktu dilahirkan ke dunia (Hindu=kandungan; Budha =  wuda atau telanjang). Hal ini dapat dikonsepsikan bahwa segala sesuatu harus dikembalikan kepada alam (back to nature), sehingga dalam tindak maupun laku harus selalu menjaga keselarasan dengan alam; tidak bertentangan dengan alam. Hal ini tercermin dari kebiasaan mereka menggunakan berbagai ornamen yang seluruhnya terbuat dari bambu dan kebiasaan bertelanjang dada sebagai manifestasi pencitraan mereka terhadap alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inti ajaran Hindu Budha Bumi Segandu adalah ngaji rasa sejarah alam, yakni melakukan kontemplasi terhadap yang 'salah' dan yang 'benar' karena sesuatu yang tampak salah belum tentu salah; sebaliknya sesuatu yang dianggap atau tampak benar belum tentu kebenarannya. Dengan demikian ngaji rasa sejarah alam pada prinsipnya merupakan proses untuk mendapatkan kebenaran, kejujuran dan kesabaran yang hakiki. Proses yang harus dilalui berbentuk ujian-ujian --baik jasmaniah maupun rohanian-- yang datangnya dari istri dan anak, berupa kata-kata kasar, caci maki, bahkan kekerasan fisik yang harus diterima oleh suami/ ayah dengan lapang dada, karena istri dan anak merupakan guru dalam mengkaji diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menjalankan keyakinan tersebut mereka berpegang pada prinsip tidak merugikan orang ataupun pihak lain, seperti mencuri, bermain judi, bermabuk-mabukan, main perempuan, dan berbagai perbuatan lain yang merugikan masyarakat umum. Mereka menyadari bahwa apa yang menjadi "keyakinan" mereka berbeda dengan keyakinan agama lain, hukum pemerintah, maupun aturan yang menjadi pijakan masyarakat umum di luar komunitas mereka, namun mereka tetap berpegang pada keyakinan bahwa setiap orang bebas menjalankan kepercayaan yang diyakininya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menyimak hal-hal di atas, Hindu Budha Bumi Segandu dapat dikategorikan sebagai agama antropologis (kultural religions) atau religi, yakni fenomena kepercayaan yang ada pada masyarakat hasil proses antropologis, yang terbentuk karena kal budi manusia dan mengkristalisasi dalam bentuk pranata agama. Dengan demikian Hindu Budha Bumi Segandu dapat diposisikan sejajar dengan agama antropologis lainnya seperti Sunda Wiwitan pada masyarakat Baduy di Jawa Barat, Pelbegu pada masyarakat Batak, Kaharingan pada masyarakat Dayak di Kalimantan, Aluk Tadolo pada masyarakat Toraja di Sulawesi Selatan dan sejumlah agama antropologis lainnya yang sudah berabad lamanya hidup di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Kiriman artikel Mas Budhi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/263363959170927395-1838438312852168472?l=koleksibacaananthrophology.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://koleksibacaananthrophology.blogspot.com/feeds/1838438312852168472/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=263363959170927395&amp;postID=1838438312852168472' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/263363959170927395/posts/default/1838438312852168472'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/263363959170927395/posts/default/1838438312852168472'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://koleksibacaananthrophology.blogspot.com/2008/04/suku-dayak-hindu-budha-bumi-segandu.html' title='Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandu Indramayu:  Suatu Komunitas Keagamaan'/><author><name>My Collection</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15363266516985222234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
